How does one define darkness?
A black version of everything?
Why are people afraid of it?
Why do they avoid it?
How can one know the light if there aren't any darkness?
How can one be so sure to know the light if darkness is nowhere near?
Because whether you like it or not, darkness completes the light.
Friday, June 26, 2015
Bosan
28 Mei 2015 - 23:32 WIB
Berulang kali ku membacanya.
Ya, semuanya telah tertulis. Namun perasaanku masih saja bergejolak. Entah.
Aku kembali membacanya.
Mengapa? Dari sekian banyak wajah yang ada, hanya kau yang menjadi perhatian.
Kubaca lagi semua.
Ada apa? Kau kenapa? Apa aku telah salah? Mungkin aku memang salah. Aku mohon maaf.
Aku hanya ingin kepastian. Aku tak ingin tergantung angan. Mungkin hanya itu. Tapi saat kudapatkan kepastian itu, aku bingung. Aku tak mengerti dengan diriku sendiri. Ada yang salahkah? Mengapa aku menangis seperti ini? Mengapa air mataku jatuh?
Aku tak siap. Sejujurnya aku tak siap.
Kubaca lagi tulisan itu.
Harapanku tak terwujud. Harapanku bahwa seiring dengan waktu, dengan membaca terus hal yang sama, aku akan bosan.
Aku tak bosan.
Aku rasa ini mengerikan. Perasaan ini. Seolah iblis telah merasukimu. Kau kehilangan akal sehatmu untuk sejenak. Mengapa? Untuk apa? Aku ini siapa hah? Aku bukan siapa-siapa.
Entahlah. Kejujuran adalah hal yang pasti, ia terikat kuat dalam diriku.
Semua yang kuutarakan seakan fana jika kulihat kembali. Akankah kau percaya? Mungkinkah kau percaya? Sanggupkah kau percaya? Percaya bahwa perasaanku ini bukanlah sebuah kebohongan. Karena aku, aku percaya bahwa aku siap menghadapi semuanya. Termasuk kenyataan pahit bahwa kau mencintai seseorang, dan seseorang itu bukanlah aku.
Aku ikhlas.
Berulang kali ku membacanya.
Ya, semuanya telah tertulis. Namun perasaanku masih saja bergejolak. Entah.
Aku kembali membacanya.
Mengapa? Dari sekian banyak wajah yang ada, hanya kau yang menjadi perhatian.
Kubaca lagi semua.
Ada apa? Kau kenapa? Apa aku telah salah? Mungkin aku memang salah. Aku mohon maaf.
Aku hanya ingin kepastian. Aku tak ingin tergantung angan. Mungkin hanya itu. Tapi saat kudapatkan kepastian itu, aku bingung. Aku tak mengerti dengan diriku sendiri. Ada yang salahkah? Mengapa aku menangis seperti ini? Mengapa air mataku jatuh?
Aku tak siap. Sejujurnya aku tak siap.
Kubaca lagi tulisan itu.
Harapanku tak terwujud. Harapanku bahwa seiring dengan waktu, dengan membaca terus hal yang sama, aku akan bosan.
Aku tak bosan.
Aku rasa ini mengerikan. Perasaan ini. Seolah iblis telah merasukimu. Kau kehilangan akal sehatmu untuk sejenak. Mengapa? Untuk apa? Aku ini siapa hah? Aku bukan siapa-siapa.
Entahlah. Kejujuran adalah hal yang pasti, ia terikat kuat dalam diriku.
Semua yang kuutarakan seakan fana jika kulihat kembali. Akankah kau percaya? Mungkinkah kau percaya? Sanggupkah kau percaya? Percaya bahwa perasaanku ini bukanlah sebuah kebohongan. Karena aku, aku percaya bahwa aku siap menghadapi semuanya. Termasuk kenyataan pahit bahwa kau mencintai seseorang, dan seseorang itu bukanlah aku.
Aku ikhlas.
Kepastian
23 Mei 2015- 14:48 WIB
Yang kau butuhkan untuk menuntaskan sebuah perasaan adalah kepastian, entah itu pahit atau manis. Jika memang itu pasti adanya, maka hati pun akan ikhlas untuk melepaskan, namun tak selalu melupakan.
Yang kau butuhkan untuk menuntaskan sebuah perasaan adalah kepastian, entah itu pahit atau manis. Jika memang itu pasti adanya, maka hati pun akan ikhlas untuk melepaskan, namun tak selalu melupakan.
Meracau
17 Mei 2015 - 21:45 WIB
Aku meracau. Aku sudah tak tahu apakah ini dunia nyata atau fana. Mungkin akulah yang tak nyata. Mungkin kisahku tak selamanya akan ada. Mungkin aku memang tak ada. Mungkin itulah yang nyata. Mungkin. Entahlah.
Aku meracau. Aku sudah tak tahu apakah ini dunia nyata atau fana. Mungkin akulah yang tak nyata. Mungkin kisahku tak selamanya akan ada. Mungkin aku memang tak ada. Mungkin itulah yang nyata. Mungkin. Entahlah.
Subscribe to:
Posts (Atom)