15 November 2015 - 12:46 WIB
Cinta itu omong kosong.
Sunday, November 15, 2015
Saturday, November 7, 2015
Entah
Rindu pada bayangan itu fana.
Entah bagaimana ia akan tersalur,
melalui benih benih keegoisan
atau melalui hembusan angin malam?
Saturday, October 31, 2015
Tak Bernyawa
Kata kata ini tak bernyawa
sebagaimana jarak yang ada
antara gelak tawa
dan tangis merana
Torehan tinta ini tak bermakna
ketika kau tumpahkan semua
botol tinta yang ada
hingga terbaur merata
Hilang lenyap terserap
segala jiwa yang merana
oleh tetesan tinta yang tumpah
di antara gelak tawa dan canda
Bukan Statis
30 Oktober 2015 - 22:22 WIB
Karena kehidupan ini dinamis bukan statis, maka aku pun ingin kita seperti itu.
Dinamis, bukan statis.
Karena kehidupan ini dinamis bukan statis, maka aku pun ingin kita seperti itu.
Dinamis, bukan statis.
Sunday, October 25, 2015
Ilalang
Hembusan tipis angin jam 10 pagi
nihil tak terasa
Tapi kau tetap menari perlahan
menikmati musik indah itu kukira?
Lucu.
Aku ingin sepertimu,
menari tenang bersama hembusan
tetap terjaga dalam irama
Kau Tersenyum
Pepohonan berbisik padamu tentangku
"Ia tak pantas untukmu"
Kau terdiam.
Kau terduduk di antara daun daun yang berguguran,
sepi.
Ku pandang kau dari kejauhan
tak kusadari bibir ini bergerak
Entah apa yang terucap.
Kau tiba tiba memandangku dengan iba,
"Tak mengapa, justru aku yang tak pantas untuknya"
Kau tersenyum.
Kau hanya tersenyum
dan aku, aku hanya bisa tersenyum
sebagai balasan atas senyumanmu
yang selama ini terbayang tanpa kehadiranmu.
Saturday, October 17, 2015
Tertimbun
14 Oktober 2015 - 18:42 WIB
Ada cinta yang tertimbun oleh angan yang tak tergambarkan oleh cita yang fana di antara kita.
Ada cinta yang tertimbun oleh angan yang tak tergambarkan oleh cita yang fana di antara kita.
Serangkai Kata
Kuberi serangkai kata yang tak mampu kulepas
Jika ia sampai padamu maka semua itu telah sirna
Jika ia tak sampai maka adakah kau percaya?
Serangkai kata yang memikat namun membunuh secara perlahan
Hilang ditelan angan
Saturday, October 10, 2015
Lantunan Nada
27 September 2015 - 05:29 WIB
Gesekan antara ban dan aspal terdengar merdu di telingaku
Sudah lama tak kudengar lantunan nada khas ini
Pengiring perjalanan, teman yang selalu mengejar meski ditinggal
Berapa banyak lantunan nada yang sudah tercipta? Aku tak tahu
Mungkinkah mereka bernada sama meski perpaduan itu tak sama?
Gesekan antara ban dan aspal terdengar merdu di telingaku
Sudah lama tak kudengar lantunan nada khas ini
Pengiring perjalanan, teman yang selalu mengejar meski ditinggal
Berapa banyak lantunan nada yang sudah tercipta? Aku tak tahu
Mungkinkah mereka bernada sama meski perpaduan itu tak sama?
Secangkir Kehangatan
Kutitipkan secangkir kehangatan untukmu
Masih hangatkah ia ketika sampai kepadamu?
Dingin.
Aku tak ingin.
Maukah kubuatkan lagi,
ketika kau dan aku bersama nanti?
Kisah yang Tumbang
19 September 2015 - 16:49 WIB
Kumpulan kisah yang tumbang diterpa kenangan
Sejatinya mereka rapuh tak mampu
Sebait kuucap ketika semua hilang
Sanggup menerima bukan berarti mudah
Mengertikah kau?
Aku hilang.
Aku, yang selama ini merindukan kenangan yang tak pernah ada, sudah menghilang.
Kenyataannya kenangan itu ada bagiku, tapi mungkin tidak untukmu.
Haruskah benar-benar ku akhiri?
Mungkin kata-katamu benar, sudah seharusnya kukosongkan ruangan itu sejak dulu.
Mungkin akulah yang selama ini terlalu bodoh sehingga membiarkan diriku tenggelam dalam imajinasiku sendiri.
Kau baik-baik saja kan? Aku yakin kau sedang menunggu bintangmu, aku mengerti.
Terima kasih sudah membiarkanku mencintaimu dari jauh, Ridh.
Kumpulan kisah yang tumbang diterpa kenangan
Sejatinya mereka rapuh tak mampu
Sebait kuucap ketika semua hilang
Sanggup menerima bukan berarti mudah
Mengertikah kau?
Aku hilang.
Aku, yang selama ini merindukan kenangan yang tak pernah ada, sudah menghilang.
Kenyataannya kenangan itu ada bagiku, tapi mungkin tidak untukmu.
Haruskah benar-benar ku akhiri?
Mungkin kata-katamu benar, sudah seharusnya kukosongkan ruangan itu sejak dulu.
Mungkin akulah yang selama ini terlalu bodoh sehingga membiarkan diriku tenggelam dalam imajinasiku sendiri.
Kau baik-baik saja kan? Aku yakin kau sedang menunggu bintangmu, aku mengerti.
Terima kasih sudah membiarkanku mencintaimu dari jauh, Ridh.
Sunday, August 30, 2015
Thursday, August 27, 2015
Batasan Jiwa
Kecup sampah dariku. Kau pikir semua
sama? Kita hanya batasan jiwa yang mengelak. Sumpah yang tak khayalnya
ombak, datang dan pergi begitu saja. Kau bangkitkan amarah bagai
tsunami. Kau hanyutkan emosi bagai sampah. Sudikah aku mengenal dirimu?
Aku tak tahu. Mungkin sendi-sendi ini mengilu karenamu. Oh, tak mungkin.
Kau hanya batasan jiwa yang melayang. Kau berada dalam garis
pengharapan, di ambang kehancuran.
Membiru
Dirundung pilu kau sebut namaku
Sepucuk daun membiru baru
Seekor elang sampai pada jarinya
Menghilang terhempas ego segala
Wednesday, August 26, 2015
Maaf
Maaf.
Mungkin sepatah kata tak akan cukup. Diri ini menggantung.
Harapan dan impian, apakah itu?
Maaf.
Mungkin kita semua terlena oleh keadaan saat ini. Kita terbawa oleh suasana.
Harapan dan impian, siapakah kamu?
Maaf.
Mungkin harapan dan impianmu belum tercapai. Kami pun sebenarnya begitu.
Harapan dan impian, yakinkah kamu?
Janganlah kau cemburu pada mereka, pada kami. Kami pun sama seperti kalian, hanya jalan cerita kita saja yang berbeda. Mungkin sekarang belum saatnya, tapi yakinkan dirimu bahwa semua akan indah pada waktunya dengan usaha dan doa. Karena kami, kita, manusia, diciptakan dari tanah dan akan kembali ke keadaan semula.
Friday, August 7, 2015
Pelangi
Halo pelangi, berjumpa lagi
Elok nian pancaran sinar
Menenangkan, oh kau tahu itu
Menembus batas imajinasi
Khayalan yang terbalut warna warni
Cantik, kau sebut aku
Tak kau lihat dirimu
Sederhana dengan keindahanmu
Menepis amarah itu
Bahagia bersamamu
Tak hanya bagiku
Iba
Iba iba iba
Ku iba pada pertemuan yang sia sia
Tapi layaknya udara di bumi
Tak ada pertemuan yang sia sia
Lalu iba ini harus pergi kemanakah?
Layaknya tuan tak berumah
Ia mencari mangsa baru
Namun sepertinya ia berhasil
Karena ia menemukanku
Bukan iba pada pertemuan yang sia sia
Namun pada potongan ceritaku
Kurasa serpihan bisa melukaimu
Tapi tak sedalam potongan kaca
Mungkin potongan ceritaku adalah serpihan itu
Yang selalu kunikmati namun ternyata melukai
Tapi tak selalu hal itu berlaku
Adapula potongan manis yang menyembuhkan
Namun ia tak selalu terlihat manis
Karena pembelajaran tak jarang terkesan pahit
Namun ia akan terasa manis
Jika kau mencernanya dengan bijak
Saturday, August 1, 2015
Fantasy
I want to fix the broken pieces that I had left behind
I cried so hard that it's getting numb
Maybe the broken pieces are meant to heal
Maybe I was the one who weren't able to see the truth
I feel like all of this is just a fantasy
Twirling swirling curling
I hate to see what's going on
I might be the one who's pretending all along
Sunday, July 19, 2015
Headache
This time I'm losing my mind. My head aches. Poundings keep on happening. I hate this. I just want to drown myself. I feel like I'm flying though. I feel like I'm closer to the clouds. I think I'm going insane. The ache is getting worse. Am I still alive? I hope I am. I need to live. I have to live. I have things to be done. I have to work. I have to live my life to the fullest. I need to. I want to. I must.
Saturday, July 18, 2015
Idul Fitri!
Sumpah serapah terkadang lewat begitu saja dari mulut, tak hiraukan dosa yang bertumpuk.
Hati, apa kau baik-baik saja? Maafkan diri ini yang masih bergelimang dosa. Masih mencari jati diri, masih berusaha memaafkan diri sendiri.
Aku, aku hanyalah seonggok daging. Tak khayalnya binatang buas di hutan nan lebat.
Tapi akal masih kugenggam, tak akan mungkin kulepaskan.
Oleh karena itu, pribadi ini memohon maaf atas segala hal yang pernah terucap, tingkah laku yang masih jauh dari sempurna, dan segala sesuatu yang telah tanpa sengaja menyinggung hati.
Taqabbalallahu minna wa minkum. Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1436 H. Baarakallahu fiik.
Hana Intishar Sawitri
#edisiIdulFitri
Thursday, July 16, 2015
Lost
I never wanted to admit this but I feel like I'm losing myself again. I'm losing myself between the dimentions. I'm losing myself as an effect of the ego that burns quietly. I am not wounded, but then again, maybe I am. I am out of words. I've lost my compass. I forgot the directions.
I'm lost.
Tuesday, July 7, 2015
Sampah
Merasakan senda gurau tak khayalnya busa.
Sembari berdecak melihat situasi yang ada.
Sampah.
Sampah.
Semua ini sampah.
Oh, kau kaget? Memang begitu kenyataannya.
Situasi ini tak lain hanya cikal bakal tumpukan sampah.
Haha, aku terdengar arogan bukan? Merasa paling pintar, paling bisa menilai.
Tidak, aku hanyalah pribadi yang selalu bermimpi besar. Aku adalah pribadi yang berharap.
Aku punya harapan.
Tapi kenyataan yang ada saat ini, situasi ini, kau seakan mengatakan aku bodoh. Kau mencemoohku.
Kau secara tak sadar membunuh harapan-harapan yang selama ini kupelihara.
Terdengar klise bukan? Berlebihan? Tentu saja berlebihan! Sama seperti situasi sampah ini yang telah kau ciptakan!
Aku bukan orang bodoh.
Aku tahu benar maksudmu.
Aku tahu pasti akal bulusmu, taktikmu, rencana busuk bak sampah milikmu itu.
Kau tak akan lolos begitu saja.
Ingat itu.
Ada
Aku bisa menuliskan kata-kata meski tak mudah.
Kau tahu? Terkadang aku berharap hanya angin bisu yang mendengarkan.
Tak selamanya suara pecahan kaca akan terdengar.
Namun serpihannya selalu membekas. Bukti. Jejak. Pelacak menuju kenyataan.
Terkadang kau heran mengapa sekelilingmu tak peka terhadapmu, namun kenyataannya kau pun tak ingin didengar, tak ingin meninggalkan suara. Jejak. Bukti. Bukti bahwa kau rapuh.
Kau hanya ingin ada.
Pesona keramaian tak pernah berhenti kau kagumi.
Karena terkadang, memahami apa yang ada di sekelilingmu sudah cukup membuatmu hidup.
Sudah cukup menjadi bukti bahwa kau ada.
Thursday, July 2, 2015
Exactly
I had tied my past to the back of the truck, it has been years since then. Yes, that's what I remembered. I remembered tying up those bloody memories and threw them away for good. Not the good ones, just the bad ones. I'm not sure though how it ended, how it exactly ended.
Friday, June 26, 2015
Darkness
How does one define darkness?
A black version of everything?
Why are people afraid of it?
Why do they avoid it?
How can one know the light if there aren't any darkness?
How can one be so sure to know the light if darkness is nowhere near?
Because whether you like it or not, darkness completes the light.
A black version of everything?
Why are people afraid of it?
Why do they avoid it?
How can one know the light if there aren't any darkness?
How can one be so sure to know the light if darkness is nowhere near?
Because whether you like it or not, darkness completes the light.
Bosan
28 Mei 2015 - 23:32 WIB
Berulang kali ku membacanya.
Ya, semuanya telah tertulis. Namun perasaanku masih saja bergejolak. Entah.
Aku kembali membacanya.
Mengapa? Dari sekian banyak wajah yang ada, hanya kau yang menjadi perhatian.
Kubaca lagi semua.
Ada apa? Kau kenapa? Apa aku telah salah? Mungkin aku memang salah. Aku mohon maaf.
Aku hanya ingin kepastian. Aku tak ingin tergantung angan. Mungkin hanya itu. Tapi saat kudapatkan kepastian itu, aku bingung. Aku tak mengerti dengan diriku sendiri. Ada yang salahkah? Mengapa aku menangis seperti ini? Mengapa air mataku jatuh?
Aku tak siap. Sejujurnya aku tak siap.
Kubaca lagi tulisan itu.
Harapanku tak terwujud. Harapanku bahwa seiring dengan waktu, dengan membaca terus hal yang sama, aku akan bosan.
Aku tak bosan.
Aku rasa ini mengerikan. Perasaan ini. Seolah iblis telah merasukimu. Kau kehilangan akal sehatmu untuk sejenak. Mengapa? Untuk apa? Aku ini siapa hah? Aku bukan siapa-siapa.
Entahlah. Kejujuran adalah hal yang pasti, ia terikat kuat dalam diriku.
Semua yang kuutarakan seakan fana jika kulihat kembali. Akankah kau percaya? Mungkinkah kau percaya? Sanggupkah kau percaya? Percaya bahwa perasaanku ini bukanlah sebuah kebohongan. Karena aku, aku percaya bahwa aku siap menghadapi semuanya. Termasuk kenyataan pahit bahwa kau mencintai seseorang, dan seseorang itu bukanlah aku.
Aku ikhlas.
Berulang kali ku membacanya.
Ya, semuanya telah tertulis. Namun perasaanku masih saja bergejolak. Entah.
Aku kembali membacanya.
Mengapa? Dari sekian banyak wajah yang ada, hanya kau yang menjadi perhatian.
Kubaca lagi semua.
Ada apa? Kau kenapa? Apa aku telah salah? Mungkin aku memang salah. Aku mohon maaf.
Aku hanya ingin kepastian. Aku tak ingin tergantung angan. Mungkin hanya itu. Tapi saat kudapatkan kepastian itu, aku bingung. Aku tak mengerti dengan diriku sendiri. Ada yang salahkah? Mengapa aku menangis seperti ini? Mengapa air mataku jatuh?
Aku tak siap. Sejujurnya aku tak siap.
Kubaca lagi tulisan itu.
Harapanku tak terwujud. Harapanku bahwa seiring dengan waktu, dengan membaca terus hal yang sama, aku akan bosan.
Aku tak bosan.
Aku rasa ini mengerikan. Perasaan ini. Seolah iblis telah merasukimu. Kau kehilangan akal sehatmu untuk sejenak. Mengapa? Untuk apa? Aku ini siapa hah? Aku bukan siapa-siapa.
Entahlah. Kejujuran adalah hal yang pasti, ia terikat kuat dalam diriku.
Semua yang kuutarakan seakan fana jika kulihat kembali. Akankah kau percaya? Mungkinkah kau percaya? Sanggupkah kau percaya? Percaya bahwa perasaanku ini bukanlah sebuah kebohongan. Karena aku, aku percaya bahwa aku siap menghadapi semuanya. Termasuk kenyataan pahit bahwa kau mencintai seseorang, dan seseorang itu bukanlah aku.
Aku ikhlas.
Kepastian
23 Mei 2015- 14:48 WIB
Yang kau butuhkan untuk menuntaskan sebuah perasaan adalah kepastian, entah itu pahit atau manis. Jika memang itu pasti adanya, maka hati pun akan ikhlas untuk melepaskan, namun tak selalu melupakan.
Yang kau butuhkan untuk menuntaskan sebuah perasaan adalah kepastian, entah itu pahit atau manis. Jika memang itu pasti adanya, maka hati pun akan ikhlas untuk melepaskan, namun tak selalu melupakan.
Meracau
17 Mei 2015 - 21:45 WIB
Aku meracau. Aku sudah tak tahu apakah ini dunia nyata atau fana. Mungkin akulah yang tak nyata. Mungkin kisahku tak selamanya akan ada. Mungkin aku memang tak ada. Mungkin itulah yang nyata. Mungkin. Entahlah.
Aku meracau. Aku sudah tak tahu apakah ini dunia nyata atau fana. Mungkin akulah yang tak nyata. Mungkin kisahku tak selamanya akan ada. Mungkin aku memang tak ada. Mungkin itulah yang nyata. Mungkin. Entahlah.
Wednesday, May 13, 2015
Pengecut
Ingin ku tertawa, sungguh. Aku menertawakan keputusan hatiku. Tertawalah. Aku merasa begitu bodoh.
Kau pikir kau bisa melupakan semua yang telah kau lakukan selama ini untuknya? Segampang itukah? Tentu tidak. Tidak sama sekali. Ini bukan cerita fiksi kawan, yang bisa dengan mudahnya kau hapus.
Bagaimana bisa kau sebodoh ini? Tertipu oleh otakmu sendiri, sementara hatimu tetap menunggunya. Menunggu sesuatu yang tak pasti. Sesuatu yang mungkin tak akan pernah terjadi. Sebuah mimpi yang mungkin akan mati, untuk kesekian kalinya.
Mungkin kau ini sedang menunggu, menunggu seseorang untuk menyelamatkanmu dari belenggu perasaan ini. Perasaan yang tak kau sadari ada, hingga hatimu tercabik oleh kenyataan yang kau lihat.
Kau bodoh. Kau harusnya bisa menjaga hatimu. Tak adakah pelajaran yang selama ini kau petik? Harus berapa kali kau sakiti hatimu agar kau sadar?
Berhentilah menjadi pengecut.
Kau pikir kau bisa melupakan semua yang telah kau lakukan selama ini untuknya? Segampang itukah? Tentu tidak. Tidak sama sekali. Ini bukan cerita fiksi kawan, yang bisa dengan mudahnya kau hapus.
Bagaimana bisa kau sebodoh ini? Tertipu oleh otakmu sendiri, sementara hatimu tetap menunggunya. Menunggu sesuatu yang tak pasti. Sesuatu yang mungkin tak akan pernah terjadi. Sebuah mimpi yang mungkin akan mati, untuk kesekian kalinya.
Mungkin kau ini sedang menunggu, menunggu seseorang untuk menyelamatkanmu dari belenggu perasaan ini. Perasaan yang tak kau sadari ada, hingga hatimu tercabik oleh kenyataan yang kau lihat.
Kau bodoh. Kau harusnya bisa menjaga hatimu. Tak adakah pelajaran yang selama ini kau petik? Harus berapa kali kau sakiti hatimu agar kau sadar?
Berhentilah menjadi pengecut.
Catatan Kecil
13 Mei 2015 - 03:01 WIB
Aku bahagia. Aku senang. Aku sangat sangat senang untuk mereka. Kebahagiaan mereka kebahagiaanku juga. Aku senang dengan kabar-kabar baik yang telah kudengar.
Namun ada satu hal yang mengusik; perpisahan.
Sebagian dari mereka mungkin sudah menemukan keluarga baru untuk empat tahun ke depan. Mungkin mereka sedang mencoba membaur dan mengenali keluarga baru mereka itu.
Aku tak bisa menyalahkan mereka. Hal itu memang wajar. Tentu setiap orang akan menemukan keluarga baru di masa transisi mereka dari SMA ke Perguruan Tinggi.
Tapi aku, aku munafik memang. Aku tak bisa selamanya bersama dengan mereka. Aku tahu jelas akan hal itu. Hal itu sudah terpampang dengan jelas di hadapanku.
Sungguh luar biasa ketika perasaan ini muncul. Perasaan campur aduk. Perasaan sedikit tertinggal. Perasaan sedikit terlupakan. Perasaan bingung.
Tidak, tidak. Aku berlebihan kali ini. Tentu mereka tidak mungkin tega melakukan hal itu. Mereka tidak akan mau melakukan hal itu. Aku percaya betul hal itu. Tapi, waktu akan menghanyutkan. Menghanyutkan hubungan yang rapuh, tak kuat, tak terjalin dengan mantap. Hanya yang kuat yang akan bertahan. Namun, tak selamanya hubungan yang kuat itu kuat. Terkadang yang kuat pun rapuh.
Tak ada hubungan yang aman. Tak ada hubungan yang pasti bertahan, kecuali hubungan kita dengan Tuhan. Tentu hal itu sudah pasti adanya jika kita percaya.
Sebentar, aku mulai meracau.
Entah tulisan macam apa yang aku tulis kali ini. Terlalu banyak emosi yang terlibat.
Baiklah, mungkin sebaiknya aku perjelas saja maksud tulisanku ini.
Aku sayang mereka. Aku tidak bercanda. Aku tidak bohong.
Setiap individu yang terkumpul menjadi satu kelompok yang padu. Entahlah, mungkin kau tidak merasakannya, tapi itu yang kurasakan.
Aku tahu semua pertemuan pasti akan berujung perpisahan. Aku tahu kita semua mempunyai impian masing-masing untuk dikejar. Untuk itulah kita berpisah, untuk bertemu kembali dalam keadaan dimana kita sudah bisa berkata, "Terima kasih atas doa-doa dan dukunganmu selama ini. Aku tidak mungkin bisa seperti ini tanpamu, kawan."
Ya, aku tidak ingin muluk-muluk. Aku hanya ingin kita bertemu dalam keadaan sukses, dimana cita-cita sudah tak lagi dalam angan, tetapi dalam genggaman.
Aku ingin kita sukses, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Semoga kita bisa bertemu lagi di surga nanti kawan. Aku sangat menginginkan hal itu. Surga firdaus jika ku boleh pinta. Entah kapan kita akan bertemu di sana. Semoga Allah meridhai kita.
Mungkin sekian untuk tulisan ini. Aku tak ingin membuatmu bosan dengan kata-kataku.
Aku mungkin tak bisa memberi lebih. Hanya tulisan dan rangkaian kata-katalah yang mampu kuberikan, untuk saat ini.
Teruntuk para calon pembangun masa depan,
12 IPA 7.
Aku bahagia. Aku senang. Aku sangat sangat senang untuk mereka. Kebahagiaan mereka kebahagiaanku juga. Aku senang dengan kabar-kabar baik yang telah kudengar.
Namun ada satu hal yang mengusik; perpisahan.
Sebagian dari mereka mungkin sudah menemukan keluarga baru untuk empat tahun ke depan. Mungkin mereka sedang mencoba membaur dan mengenali keluarga baru mereka itu.
Aku tak bisa menyalahkan mereka. Hal itu memang wajar. Tentu setiap orang akan menemukan keluarga baru di masa transisi mereka dari SMA ke Perguruan Tinggi.
Tapi aku, aku munafik memang. Aku tak bisa selamanya bersama dengan mereka. Aku tahu jelas akan hal itu. Hal itu sudah terpampang dengan jelas di hadapanku.
Sungguh luar biasa ketika perasaan ini muncul. Perasaan campur aduk. Perasaan sedikit tertinggal. Perasaan sedikit terlupakan. Perasaan bingung.
Tidak, tidak. Aku berlebihan kali ini. Tentu mereka tidak mungkin tega melakukan hal itu. Mereka tidak akan mau melakukan hal itu. Aku percaya betul hal itu. Tapi, waktu akan menghanyutkan. Menghanyutkan hubungan yang rapuh, tak kuat, tak terjalin dengan mantap. Hanya yang kuat yang akan bertahan. Namun, tak selamanya hubungan yang kuat itu kuat. Terkadang yang kuat pun rapuh.
Tak ada hubungan yang aman. Tak ada hubungan yang pasti bertahan, kecuali hubungan kita dengan Tuhan. Tentu hal itu sudah pasti adanya jika kita percaya.
Sebentar, aku mulai meracau.
Entah tulisan macam apa yang aku tulis kali ini. Terlalu banyak emosi yang terlibat.
Baiklah, mungkin sebaiknya aku perjelas saja maksud tulisanku ini.
Aku sayang mereka. Aku tidak bercanda. Aku tidak bohong.
Setiap individu yang terkumpul menjadi satu kelompok yang padu. Entahlah, mungkin kau tidak merasakannya, tapi itu yang kurasakan.
Aku tahu semua pertemuan pasti akan berujung perpisahan. Aku tahu kita semua mempunyai impian masing-masing untuk dikejar. Untuk itulah kita berpisah, untuk bertemu kembali dalam keadaan dimana kita sudah bisa berkata, "Terima kasih atas doa-doa dan dukunganmu selama ini. Aku tidak mungkin bisa seperti ini tanpamu, kawan."
Ya, aku tidak ingin muluk-muluk. Aku hanya ingin kita bertemu dalam keadaan sukses, dimana cita-cita sudah tak lagi dalam angan, tetapi dalam genggaman.
Aku ingin kita sukses, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Semoga kita bisa bertemu lagi di surga nanti kawan. Aku sangat menginginkan hal itu. Surga firdaus jika ku boleh pinta. Entah kapan kita akan bertemu di sana. Semoga Allah meridhai kita.
Mungkin sekian untuk tulisan ini. Aku tak ingin membuatmu bosan dengan kata-kataku.
Aku mungkin tak bisa memberi lebih. Hanya tulisan dan rangkaian kata-katalah yang mampu kuberikan, untuk saat ini.
Teruntuk para calon pembangun masa depan,
12 IPA 7.
Tuesday, May 12, 2015
Mungkin
12 Mei 2015 - 11:40 WIB
Simfoni dalam angan tak lagi mengusik. Mungkin aku berhasil. Mungkin tidak. Mungkin ini hanya transisi. Mungkin aku hanya berhenti.
Baguslah.
Tak ada waktu lagi untuk mempermasalahkan hal sepele seperti itu. Belum waktunya. Belum saatnya. Belum tentu dia orangnya.
Jika waktu boleh berbicara, mungkin ia akan bercerita. Perihal penantian itu dan usahaku yang sia-sia.
Simfoni dalam angan tak lagi mengusik. Mungkin aku berhasil. Mungkin tidak. Mungkin ini hanya transisi. Mungkin aku hanya berhenti.
Baguslah.
Tak ada waktu lagi untuk mempermasalahkan hal sepele seperti itu. Belum waktunya. Belum saatnya. Belum tentu dia orangnya.
Jika waktu boleh berbicara, mungkin ia akan bercerita. Perihal penantian itu dan usahaku yang sia-sia.
Kata Itu
Sayup-sayup kudengar kata itu. Kata celaka bak tebing di gunung. Aku tak ingin bergelut lagi dengan hal itu. Kata itu. Apalah itu.
Cukup.
Ada hal yang lebih pantas untuk dipikirkan bukan?
Cukup.
Ada hal yang lebih pantas untuk dipikirkan bukan?
Saturday, May 9, 2015
Aku akan Bangkit
9 Mei 2015 - 22:09 WIB
Aku sudah tak peduli lagi. Aku sudah tak peduli dengan cerita yang pernah terukir dalam pikiran. Aku sudah terlena oleh angan, dan tak akan lagi kubiarkan. Kau bukan lagi hal penting dalam hidupku. Enyahlah, aku sudah tak ingin terbalut lagi dalam emosi yang tak ada gunanya. Aku sudah mengerti. Aku tak lagi bermimpi. Kau, adalah masa lalu. Kau, kutinggalkan detik ini. Bersamaan dengan mimpi masa kecilku, ku ingin kau menjadi masa lalu yang tak mengusik.
Aku akan melangkah maju.
Bismillah. InsyaAllah.
Aku akan bangkit. Akan kutemukan galaksiku sendiri, tanpa kau perlu menjadi bintang di sekitarku.
Akan kubuktikan.
Aku sudah tak peduli lagi. Aku sudah tak peduli dengan cerita yang pernah terukir dalam pikiran. Aku sudah terlena oleh angan, dan tak akan lagi kubiarkan. Kau bukan lagi hal penting dalam hidupku. Enyahlah, aku sudah tak ingin terbalut lagi dalam emosi yang tak ada gunanya. Aku sudah mengerti. Aku tak lagi bermimpi. Kau, adalah masa lalu. Kau, kutinggalkan detik ini. Bersamaan dengan mimpi masa kecilku, ku ingin kau menjadi masa lalu yang tak mengusik.
Aku akan melangkah maju.
Bismillah. InsyaAllah.
Aku akan bangkit. Akan kutemukan galaksiku sendiri, tanpa kau perlu menjadi bintang di sekitarku.
Akan kubuktikan.
Thursday, May 7, 2015
Lelah
Ketika bintang mengucapkan selamat tinggal,
mampukah hati ini tetap tegar?
Terkoyak sebagian jiwa ini,
hati ini mungkin.
Sanggupkah semua ini kujalani
ketika semua hal sedang terjadi?
Ataukah ku harus tumbang
ketika ombak datang menyerang?
Debur-debur perpisahan menyambut
Bahkan bayangan pun terenggut
Secuil kehidupan bertemu
Tanpa menghiraukan yang dulu
Aku tak ingin menjadi kenangan
Aku tak ingin bersimpuh angan
Aku lelah
Aku lelah.
Andai kau tahu
Sungguh ingin ku seru
Semua hal yang tersimpan
Semua angan yang menjadi harapan
Berhenti
Ketika bintang itu begitu dekat namun tak dapat digapai kecuali dengan angan, saat itulah mungkin kita harus sadar untuk berhenti.
Berhenti melihatnya.
Berhenti mengejarnya.
Berhenti berharap.
Berhenti sejenak untuk melihat bintang yang lain.
Bintang yang mungkin selama ini tertutupi sinarnya oleh bintang itu.
Bintang yang selama ini ada namun tak pernah terbesit untuk diperhatikan, dipelajari, dikagumi.
Berhenti melihatnya.
Berhenti mengejarnya.
Berhenti berharap.
Berhenti sejenak untuk melihat bintang yang lain.
Bintang yang mungkin selama ini tertutupi sinarnya oleh bintang itu.
Bintang yang selama ini ada namun tak pernah terbesit untuk diperhatikan, dipelajari, dikagumi.
Tempat Itu
6 Mei 2015 - 18:09 WIB
Petang menyambut perjalanan kali ini. Rintik-rintik hujan menjadi saksi bisu pemahaman hati. Telah lama kuhabiskan waktuku di tempat yang tak asing itu, tempatku tenggelam dalam keramaian. Setiap hari, layaknya daun yang berguguran, aku terjatuh kembali ke tempat itu.
Petang menyambut perjalanan kali ini. Rintik-rintik hujan menjadi saksi bisu pemahaman hati. Telah lama kuhabiskan waktuku di tempat yang tak asing itu, tempatku tenggelam dalam keramaian. Setiap hari, layaknya daun yang berguguran, aku terjatuh kembali ke tempat itu.
Saturday, April 18, 2015
Bara Merah
Ku sembunyikan lukaku agar kau tak tahu
Ku tunjukkan ceriaku agar kau tahu
Ku sembunyikan hatiku tanpa kau tahu
Ku tunjukkan hatiku agar kau tahu
Tepis bara merah ini
Padamkan gelora asmara ini
Lucuti cinta kasih ini
Pecahkan ego ini
Aku tak mau
Aku tak ingin
Aku tak bisa
Aku lemah
Sampaikan pada masa kisah ini
Cerita bisu tak berarti
Hingga nanti ku bisa sendiri
Menelaah arti hidup ini
Ranah Berbayang
Untaian kata itu terkesan hina ketika terucap
Tak ada lagi keelokan yang terpancar
Sungguh miris bagai panah yang tertancap
Menuju ranah berbayang
Karena sesungguhnya hati yang terkoyak
tak pernah ada.
tak pernah ada.
Perpisahan
Ketika perpisahan hanyalah angan
Awan pun tak gemetar
Aku pun begitu
Entah mengapa
Sulit ku ungkapkan
Cerita yang mungkin membisu
Tak ada lagi mungkin
Cerita yang selama ini terangkai
Dalam angan yang tertipu
Sunday, April 5, 2015
Love
They say if you love someone then you got to let them go. Yes you do. That is absolutely correct.
Love requires patience and sacrifice. It doesn't need anything fancy. You don't need roses or candle lights or even diamond rings to prove that you love or are being loved by someone.
Love comes from the heart. It is never meaningless. Love is always full of surprises, just like life itself.
Try counting the hours of which you had spent thinking about love. It's impossible yet possible, because love is always there. It never went anywhere. Love surrounds us. It's humanly impossible for someone to avoid love.
Frames
One does not create a barricade upon graves
Creating illusions on each hand
Lifting hope through sorrow
Plotting scenes into frames
Friday, April 3, 2015
How
Have you ever looked at the sky
wondering how it got too far?
Every silent steps,
every heavy breath,
a cycle which will never end.
Fear
Silent cries in the middle of the night
Whispering tears as the shadow grows
She doesn't know
She doesn't know the monster that is coming
The monster that is coming from her
Who took a U-turn to face her
Desperation came as she exhales
Shivers went through her cold hand
Trembling lips adds up the fear
Indeed there is darkness within herself
Even though every inch of her is covered by light
She cannot escape what is already trapped inside
She cannot see the danger that lurks within
She may never find herself the same ever again
Wednesday, April 1, 2015
Dear
I would write a thousand poems for you but it would mean nothing
I could use all of my ink to color this life into black and white but I won't
I would love to know you but not for now
I could feel your love but I can't see you yet
I would walk a thousand miles just to see you smile but you're not there
I could wish upon a star but you are one of them
I would leave but then I would miss you
I could feel your pain but it would hurt less when I'm with you
I would ride the tides but the moon is keeping us apart
I could see the birds flying but I can't see the clouds
I would bring the worst of me but that would mean giving you my heart
I could bring the best of me but that would mean I love you
Whoever you are, wherever you are, I just want to let you know that I miss you.
I See
I create fantasies beyond limits
I capture stars at their peaks
I cross the ocean just to drown
I complement the wind to feel the rush
I, I feel
I, I breathe
I, I live
I
I see
Subscribe to:
Posts (Atom)