Ingin ku tertawa, sungguh. Aku menertawakan keputusan hatiku. Tertawalah. Aku merasa begitu bodoh.
Kau pikir kau bisa melupakan semua yang telah kau lakukan selama ini untuknya? Segampang itukah? Tentu tidak. Tidak sama sekali. Ini bukan cerita fiksi kawan, yang bisa dengan mudahnya kau hapus.
Bagaimana bisa kau sebodoh ini? Tertipu oleh otakmu sendiri, sementara hatimu tetap menunggunya. Menunggu sesuatu yang tak pasti. Sesuatu yang mungkin tak akan pernah terjadi. Sebuah mimpi yang mungkin akan mati, untuk kesekian kalinya.
Mungkin kau ini sedang menunggu, menunggu seseorang untuk menyelamatkanmu dari belenggu perasaan ini. Perasaan yang tak kau sadari ada, hingga hatimu tercabik oleh kenyataan yang kau lihat.
Kau bodoh. Kau harusnya bisa menjaga hatimu. Tak adakah pelajaran yang selama ini kau petik? Harus berapa kali kau sakiti hatimu agar kau sadar?
Berhentilah menjadi pengecut.
No comments:
Post a Comment