Sunday, April 17, 2016

Tak Berdetak

Apa yang dipikirkan
oleh hembusan angin malam?
Apa yang dideskripsikan bintang kepada langit tentang indahnya malam?
Apa yang sanggup kukendalikan ketika semua berakhir muram?

Cerahnya langit malam,
itu yang kudambakan.
Hembusan angin malam
seolah menarik semua pikiran,
mengumpulkannya menjadi satu,
menghilang bersama bintang bintang.

Aku rindu.
Aku rindu pada bayangan.
Bayanganku yang hilang di tengah gelapnya malam.

Sanggupkah aku berjalan
tanpa sosok yang tak pernah hilang?
Kukira ia tak akan pernah hilang,
namun kenyataannya ia pun hilang.

Aku yang bergantung padanya pun dibuat jatuh
Entah apa yang dipikirkannya
Bagaimana mungkin ia tega?
Tak mungkin ia tega.

Namun apalah arti sebuah raga,
ketika jantung sudah tak berdetak.

Lepas

Lepas aku hilang ditelan zaman
Menikmati arus deras ego mayoritas
Harap harap cemas perlukah kurasa?
Berpegang teguh pada keyakinan sulit rasanya

Hampa bukan berarti tidak ada
Berlaku untuk manusia karena kami bukan udara
Hampa pun kami tetap ada
Hampa itu hanya gambaran rasa
Hati yang hampa, 
seperti ditelan lautan kekosongan
Ia hampa, tapi ada.
Mengertikah kau?
Oh sulit menurutku.
Bagaimana tidak?
Aku ini berbicara omong kosong
Tak ada keterkaitan yang kurasa
antara kata kata yang tertuang

Sedikit lebih kulihat diri
Terbalut dalam emosi
Sedih.
Iri.
Ah, apakah aku pantas?
Tengok saja dulu ke belakang.
Hidupmu sudah berkembang.
Kau sudah berenang, terbang
sejauh harapan dan cita yang terbentang
Ang
Ang
Apalah arti kesenangan
Jika dunia dan akhirat tak terelakkan.