Sunday, July 19, 2015

Headache

This time I'm losing my mind. My head aches. Poundings keep on happening. I hate this. I just want to drown myself. I feel like I'm flying though. I feel like I'm closer to the clouds. I think I'm going insane. The ache is getting worse. Am I still alive? I hope I am. I need to live. I have to live. I have things to be done. I have to work. I have to live my life to the fullest. I need to. I want to. I must. 

Saturday, July 18, 2015

Idul Fitri!

Sumpah serapah terkadang lewat begitu saja dari mulut, tak hiraukan dosa yang bertumpuk. 
Hati, apa kau baik-baik saja? Maafkan diri ini yang masih bergelimang dosa. Masih mencari jati diri, masih berusaha memaafkan diri sendiri.
Aku, aku hanyalah seonggok daging. Tak khayalnya binatang buas di hutan nan lebat.
Tapi akal masih kugenggam, tak akan mungkin kulepaskan.
Oleh karena itu, pribadi ini memohon maaf atas segala hal yang pernah terucap, tingkah laku yang masih jauh dari sempurna, dan segala sesuatu yang telah tanpa sengaja menyinggung hati.

Taqabbalallahu minna wa minkum. Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1436 H. Baarakallahu fiik.



Hana Intishar Sawitri

#edisiIdulFitri

Thursday, July 16, 2015

Lost

I never wanted to admit this but I feel like I'm losing myself again. I'm losing myself between the dimentions. I'm losing myself as an effect of the ego that burns quietly. I am not wounded, but then again, maybe I am. I am out of words. I've lost my compass. I forgot the directions. 




I'm lost.

Tuesday, July 7, 2015

Sampah

Merasakan senda gurau tak khayalnya busa.
Sembari berdecak melihat situasi yang ada.
Sampah.
Sampah.
Semua ini sampah.

Oh, kau kaget? Memang begitu kenyataannya.
Situasi ini tak lain hanya cikal bakal tumpukan sampah.
Haha, aku terdengar arogan bukan? Merasa paling pintar, paling bisa menilai.
Tidak, aku hanyalah pribadi yang selalu bermimpi besar. Aku adalah pribadi yang berharap. 
Aku punya harapan.

Tapi kenyataan yang ada saat ini, situasi ini, kau seakan mengatakan aku bodoh. Kau mencemoohku.
Kau secara tak sadar membunuh harapan-harapan yang selama ini kupelihara.
Terdengar klise bukan? Berlebihan? Tentu saja berlebihan! Sama seperti situasi sampah ini yang telah kau ciptakan!

Aku bukan orang bodoh.
Aku tahu benar maksudmu.
Aku tahu pasti akal bulusmu, taktikmu, rencana busuk bak sampah milikmu itu.
Kau tak akan lolos begitu saja.
Ingat itu.

Ada

Aku bisa menuliskan kata-kata meski tak mudah.
Kau tahu? Terkadang aku berharap hanya angin bisu yang mendengarkan.

Tak selamanya suara pecahan kaca akan terdengar. 
Namun serpihannya selalu membekas. Bukti. Jejak. Pelacak menuju kenyataan.
Terkadang kau heran mengapa sekelilingmu tak peka terhadapmu, namun kenyataannya kau pun tak ingin didengar, tak ingin meninggalkan suara. Jejak. Bukti. Bukti bahwa kau rapuh.

Kau hanya ingin ada.

Pesona keramaian tak pernah berhenti kau kagumi.
Karena terkadang, memahami apa yang ada di sekelilingmu sudah cukup membuatmu hidup.
Sudah cukup menjadi bukti bahwa kau ada.

Thursday, July 2, 2015

Exactly

I had tied my past to the back of the truck, it has been years since then. Yes, that's what I remembered. I remembered tying up those bloody memories and threw them away for good. Not the good ones, just the bad ones. I'm not sure though how it ended, how it exactly ended.