Wednesday, May 13, 2015

Pengecut

Ingin ku tertawa, sungguh. Aku menertawakan keputusan hatiku. Tertawalah. Aku merasa begitu bodoh.


Kau pikir kau bisa melupakan semua yang telah kau lakukan selama ini untuknya? Segampang itukah? Tentu tidak. Tidak sama sekali. Ini bukan cerita fiksi kawan, yang bisa dengan mudahnya kau hapus.


Bagaimana bisa kau sebodoh ini? Tertipu oleh otakmu sendiri, sementara hatimu tetap menunggunya. Menunggu sesuatu yang tak pasti. Sesuatu yang mungkin tak akan pernah terjadi. Sebuah mimpi yang mungkin akan mati, untuk kesekian kalinya.


Mungkin kau ini sedang menunggu, menunggu seseorang untuk menyelamatkanmu dari belenggu perasaan ini. Perasaan yang tak kau sadari ada, hingga hatimu tercabik oleh kenyataan yang kau lihat.

Kau bodoh. Kau harusnya bisa menjaga hatimu. Tak adakah pelajaran yang selama ini kau petik? Harus berapa kali kau sakiti hatimu agar kau sadar?




Berhentilah menjadi pengecut.

Catatan Kecil

13 Mei 2015 - 03:01 WIB


Aku bahagia. Aku senang. Aku sangat sangat senang untuk mereka. Kebahagiaan mereka kebahagiaanku juga. Aku senang dengan kabar-kabar baik yang telah kudengar.


Namun ada satu hal yang mengusik; perpisahan.


Sebagian dari mereka mungkin sudah menemukan keluarga baru untuk empat tahun ke depan. Mungkin mereka sedang mencoba membaur dan mengenali keluarga baru mereka itu.

Aku tak bisa menyalahkan mereka. Hal itu memang wajar. Tentu setiap orang akan menemukan keluarga baru di masa transisi mereka dari SMA ke Perguruan Tinggi.

Tapi aku, aku munafik memang. Aku tak bisa selamanya bersama dengan mereka. Aku tahu jelas akan hal itu. Hal itu sudah terpampang dengan jelas di hadapanku.

Sungguh luar biasa ketika perasaan ini muncul. Perasaan campur aduk. Perasaan sedikit tertinggal. Perasaan sedikit terlupakan. Perasaan bingung.

Tidak, tidak. Aku berlebihan kali ini. Tentu mereka tidak mungkin tega melakukan hal itu. Mereka tidak akan mau melakukan hal itu. Aku percaya betul hal itu. Tapi, waktu akan menghanyutkan. Menghanyutkan hubungan yang rapuh, tak kuat, tak terjalin dengan mantap. Hanya yang kuat yang akan bertahan. Namun, tak selamanya hubungan yang kuat itu kuat. Terkadang yang kuat pun rapuh.

Tak ada hubungan yang aman. Tak ada hubungan yang pasti bertahan, kecuali hubungan kita dengan Tuhan. Tentu hal itu sudah pasti adanya jika kita percaya.


Sebentar, aku mulai meracau.


Entah tulisan macam apa yang aku tulis kali ini. Terlalu banyak emosi yang terlibat.


Baiklah, mungkin sebaiknya aku perjelas saja maksud tulisanku ini.


Aku sayang mereka. Aku tidak bercanda. Aku tidak bohong.

Setiap individu yang terkumpul menjadi satu kelompok yang padu. Entahlah, mungkin kau tidak merasakannya, tapi itu yang kurasakan.

Aku tahu semua pertemuan pasti akan berujung perpisahan. Aku tahu kita semua mempunyai impian masing-masing untuk dikejar. Untuk itulah kita berpisah, untuk bertemu kembali dalam keadaan dimana kita sudah bisa berkata, "Terima kasih atas doa-doa dan dukunganmu selama ini. Aku tidak mungkin bisa seperti ini tanpamu, kawan."

Ya, aku tidak ingin muluk-muluk. Aku hanya ingin kita bertemu dalam keadaan sukses, dimana cita-cita sudah tak lagi dalam angan, tetapi dalam genggaman.

Aku ingin kita sukses, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Semoga kita bisa bertemu lagi di surga nanti kawan. Aku sangat menginginkan hal itu. Surga firdaus jika ku boleh pinta. Entah kapan kita akan bertemu di sana. Semoga Allah meridhai kita.


Mungkin sekian untuk tulisan ini. Aku tak ingin membuatmu bosan dengan kata-kataku.

Aku mungkin tak bisa memberi lebih. Hanya tulisan dan rangkaian kata-katalah yang mampu kuberikan, untuk saat ini.



Teruntuk para calon pembangun masa depan,

12 IPA 7.

Tuesday, May 12, 2015

Mungkin

12 Mei 2015 - 11:40 WIB


Simfoni dalam angan tak lagi mengusik. Mungkin aku berhasil. Mungkin tidak. Mungkin ini hanya transisi. Mungkin aku hanya berhenti.


Baguslah.


Tak ada waktu lagi untuk mempermasalahkan hal sepele seperti itu. Belum waktunya. Belum saatnya. Belum tentu dia orangnya.

Jika waktu boleh berbicara, mungkin ia akan bercerita. Perihal penantian itu dan usahaku yang sia-sia.

Kata Itu

Sayup-sayup kudengar kata itu. Kata celaka bak tebing di gunung. Aku tak ingin bergelut lagi dengan hal itu. Kata itu. Apalah itu.


Cukup.


Ada hal yang lebih pantas untuk dipikirkan bukan?

Saturday, May 9, 2015

Aku akan Bangkit

9 Mei 2015 - 22:09 WIB


Aku sudah tak peduli lagi. Aku sudah tak peduli dengan cerita yang pernah terukir dalam pikiran. Aku sudah terlena oleh angan, dan tak akan lagi kubiarkan. Kau bukan lagi hal penting dalam hidupku. Enyahlah, aku sudah tak ingin terbalut lagi dalam emosi yang tak ada gunanya. Aku sudah mengerti. Aku tak lagi bermimpi. Kau, adalah masa lalu. Kau, kutinggalkan detik ini. Bersamaan dengan mimpi masa kecilku, ku ingin kau menjadi masa lalu yang tak mengusik.

Aku akan melangkah maju.


Bismillah. InsyaAllah.




Aku akan bangkit. Akan kutemukan galaksiku sendiri, tanpa kau perlu menjadi bintang di sekitarku.





Akan kubuktikan.

Thursday, May 7, 2015

Lelah

Ketika bintang mengucapkan selamat tinggal,
mampukah hati ini tetap tegar?
Terkoyak sebagian jiwa ini,
hati ini mungkin.

Sanggupkah semua ini kujalani
ketika semua hal sedang terjadi?
Ataukah ku harus tumbang
ketika ombak datang menyerang?

Debur-debur perpisahan menyambut
Bahkan bayangan pun terenggut
Secuil kehidupan bertemu
Tanpa menghiraukan yang dulu

Aku tak ingin menjadi kenangan
Aku tak ingin bersimpuh angan
Aku lelah
Aku lelah.

Andai kau tahu
Sungguh ingin ku seru
Semua hal yang tersimpan
Semua angan yang menjadi harapan

Berhenti

Ketika bintang itu begitu dekat namun tak dapat digapai kecuali dengan angan, saat itulah mungkin kita harus sadar untuk berhenti.

Berhenti melihatnya.
Berhenti mengejarnya.
Berhenti berharap.
Berhenti sejenak untuk melihat bintang yang lain.
Bintang yang mungkin selama ini tertutupi sinarnya oleh bintang itu.
Bintang yang selama ini ada namun tak pernah terbesit untuk diperhatikan, dipelajari, dikagumi.

Tempat Itu

6 Mei 2015 - 18:09 WIB


Petang menyambut perjalanan kali ini. Rintik-rintik hujan menjadi saksi bisu pemahaman hati. Telah lama kuhabiskan waktuku di tempat yang tak asing itu, tempatku tenggelam dalam keramaian. Setiap hari, layaknya daun yang berguguran, aku terjatuh kembali ke tempat itu.