13 Mei 2015 - 03:01 WIB
Aku bahagia. Aku senang. Aku sangat sangat senang untuk mereka. Kebahagiaan mereka kebahagiaanku juga. Aku senang dengan kabar-kabar baik yang telah kudengar.
Namun ada satu hal yang mengusik; perpisahan.
Sebagian dari mereka mungkin sudah menemukan keluarga baru untuk empat tahun ke depan. Mungkin mereka sedang mencoba membaur dan mengenali keluarga baru mereka itu.
Aku tak bisa menyalahkan mereka. Hal itu memang wajar. Tentu setiap orang akan menemukan keluarga baru di masa transisi mereka dari SMA ke Perguruan Tinggi.
Tapi aku, aku munafik memang. Aku tak bisa selamanya bersama dengan mereka. Aku tahu jelas akan hal itu. Hal itu sudah terpampang dengan jelas di hadapanku.
Sungguh luar biasa ketika perasaan ini muncul. Perasaan campur aduk. Perasaan sedikit tertinggal. Perasaan sedikit terlupakan. Perasaan bingung.
Tidak, tidak. Aku berlebihan kali ini. Tentu mereka tidak mungkin tega melakukan hal itu. Mereka tidak akan mau melakukan hal itu. Aku percaya betul hal itu. Tapi, waktu akan menghanyutkan. Menghanyutkan hubungan yang rapuh, tak kuat, tak terjalin dengan mantap. Hanya yang kuat yang akan bertahan. Namun, tak selamanya hubungan yang kuat itu kuat. Terkadang yang kuat pun rapuh.
Tak ada hubungan yang aman. Tak ada hubungan yang pasti bertahan, kecuali hubungan kita dengan Tuhan. Tentu hal itu sudah pasti adanya jika kita percaya.
Sebentar, aku mulai meracau.
Entah tulisan macam apa yang aku tulis kali ini. Terlalu banyak emosi yang terlibat.
Baiklah, mungkin sebaiknya aku perjelas saja maksud tulisanku ini.
Aku sayang mereka. Aku tidak bercanda. Aku tidak bohong.
Setiap individu yang terkumpul menjadi satu kelompok yang padu. Entahlah, mungkin kau tidak merasakannya, tapi itu yang kurasakan.
Aku tahu semua pertemuan pasti akan berujung perpisahan. Aku tahu kita semua mempunyai impian masing-masing untuk dikejar. Untuk itulah kita berpisah, untuk bertemu kembali dalam keadaan dimana kita sudah bisa berkata, "Terima kasih atas doa-doa dan dukunganmu selama ini. Aku tidak mungkin bisa seperti ini tanpamu, kawan."
Ya, aku tidak ingin muluk-muluk. Aku hanya ingin kita bertemu dalam keadaan sukses, dimana cita-cita sudah tak lagi dalam angan, tetapi dalam genggaman.
Aku ingin kita sukses, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Semoga kita bisa bertemu lagi di surga nanti kawan. Aku sangat menginginkan hal itu. Surga firdaus jika ku boleh pinta. Entah kapan kita akan bertemu di sana. Semoga Allah meridhai kita.
Mungkin sekian untuk tulisan ini. Aku tak ingin membuatmu bosan dengan kata-kataku.
Aku mungkin tak bisa memberi lebih. Hanya tulisan dan rangkaian kata-katalah yang mampu kuberikan, untuk saat ini.
Teruntuk para calon pembangun masa depan,
12 IPA 7.
No comments:
Post a Comment